Malaysian Business Locations Directory

ONEXOX Peneraju Prabayar Kadar Jimat

Sunday, July 21, 2013

SIAPAKAH YANG LAYAK DISEBUT KAFIR?

Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Pertanyaan:
Siapakah sebenarnya yang layak dihukumi (disebut) kafir?

Jawab:

Yang layak disebut kafir ialah orang yang dengan terang-terangan tanpa malu menentang dan memusuhi agama Islam, menganggap dirinya kafir dan bangga akan perbuatannya yang terkutuk.Bukan orang-orang Islam yang tetap mengakui agamanya secara lahir, walaupun dalamnya buruk dan imannya lemah, tidak konsisten antara perbuatan dan ucapannya. Orang itu dalam Islam dinamakan "munafik" hukumnya.Di dunia dia tetap dinamakan (termasuk) orang Islam, tetapi di akhirat tempatnya di neraka pada tingkat yang terbawah.Di bawah ini kami kemukakan golongan (orang-orang) yang layak disebut kafir tanpa diragukan lagi, yaitu:

1. Golongan Komunis atau Atheis, yang percaya pada suatu falsafah dan undang-undang, yang bertentangan dengan syariat dan hukum-hukum Islam. Mereka itu musuh agama, terutama agama Islam. Mereka beranggapan bahwa agama adalah candu bagi masyarakat.

2. Orang-orang atau golongan dari paham yang menamakan dirinya sekular, yang menolak secara terang-terangan pada agama Allah dan memerangi siapa saja yang berdakwah dan mengajak masyarakat untuk kembali pada syariat dan hukum Allah.

3. Orang-orang dari aliran kebatinan, misalnya golongan Duruz, Nasyiriah, Ismailiah dan lain-lainnya. Kebanyakan dari mereka itu berada di Suriah dan sekitarnya.

Al-Imam Ghazali pernah berkata:"Pada lahirnya mereka itu bersifat menolak dan batinnya kufur."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata:"Mereka lebih kafir daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani.Karena sebagian besar mereka ingkar pada landasan Islam."Seperti halnya mereka yang baru muncul di masa itu, yaitu yang bernama Bahaiah, agama baru yang berdiri sendiri. Begitu juga golongan yang mendekatinya, yaitu Al-Qadiyaniah, yang beranggapan bahwa pemimpinnya adalah nabi setelah Nabi Muhammad saw.

Posted on Sunday, July 21, 2013 by wirajiwa Faintallah

No comments

TIADA MANUSIA YANG SEMPURNA IMANNYA

Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Pertanyaan:
Apakah ada manusia yang sempurna?
Jawab:

Tiada manusia yang sempurna, karena setiap orang mempunyai kelemahan. Seseorang yang beriman, tentu mempunyai kesalahan dan memiliki sifat buruk yang sukar dihilangkan. Tiada orang Mukmin yang murni atau sempurna.Pandangan orang jarang ditujukan pada hal-hal yang berada di pertengahan antara dua hal yang berdekatan. Bagi seseorang sesuatu itu warnanya putih saja, sebagian yang lain hitam saja, mereka lupa adanya warna yang lain, tidak putih dan tidak pula hitam.

Nabi saw. pernah bersabda kepada Abu Dzar r.a., beliau bersabda, "Engkau seorang yang masih ada padamu sifat Jahiliyah." Abu Dzar adalah seorang sahabat yang utama, termasuk dari orang-orang pertama yang beriman dan berjihad,akan tetapi masih ada kekurangannya.

Juga didalam Shahih Bukhari diterangkan oleh Nabi saw.:"Barangsiapa yang meninggal bukan karena melakukan jihad dan tidak dirasakannya (tidak ingin) dalam jiwanya maksud akan berjihad, maka dia mati dalam keadaan sedikit ada nifaknya."

Abdullah bin Mubarak meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. yang mengatakan sebagai berikut:"Seorang Mukmin itu permulaannya tampak sedikit putih dalam kalbunya; setiap kali iman bertambah, maka bertambah putihlah kalbu itu. Begitu seterusnya, hingga kalbunya menjadi putih semua. Begitu juga kemunafikan, pertama ada tanda-tanda hitam dalam kalbunya; dan setiap melakukan kemunafikan, maka bertambah pula hitamnya, sampai hatinya menjadi hitam semua.

Demi Allah, jika dibuka hati seorang Mukmin, maka tentu tampak putih sekali; dan jika dibuka hati orang kafir, maka tentu tampak hitam sekali."Ini berarti seseorang tidak dapat sekaligus menjadi sempurna imannya atau menjadi munafik, tetapi kedua hal itu bertahap,yakni sedikit demi sedikit.

Posted on Sunday, July 21, 2013 by wirajiwa Faintallah

No comments

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN SESEORANG

Pertanyaan:

Apa yang menyebabkan Islam seseorang menjadi batal?

Jawab:

Setiap manusia, apabila telah mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka dia menjadi orang Islam. Baginya wajib dan berlaku hukum-hukum Islam, yaitu beriman akan keadilan dan kesucian Islam. Wajib baginya menyerah dan mengamalkan hukum Islam yang jelas, yang ditetapkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah.Tidak ada pilihan baginya menerima atau meninggalkan sebagian. Dia harus menyerah pada semua hukum yang dihalalkan dan yang diharamkan, sebagaimana arti (maksud) dari ayat di bawah ini:

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka ..."
(Q.s.Al-Ahzab: 36) .
Perlu diketahui bahwa ada diantara hukum-hukum Islam yangsudah jelas menjadi kewajiban-kewajiban, atau yang sudah jelas diharamkan (dilarang) dan hal itu sudah menjadi ketetapan yang tidak diragukan lagi, yang telah diketahui oleh ummat Islam pada umumnya. Yang demikian itu dinamakan oleh para ulama: "Hukum-hukum agama yang sudah jelas diketahui."Misalnya, kewajiban salat, puasa, zakat dan sebagainya. Hal itu termasuk rukun-rukun Islam.

Ada yang diharamkan, misalnya, membunuh, zina, melakukan riba, minum khamar dan sebagainya. Hal itu termasuk dalam dosa besar. Begitu juga hukum-hukum pernikahan, talak, waris dan qishas, semua itu termasuk perkara yang tidak diragukan lagi hukumnya. Barangsiapa yang mengingkari sesuatu dari hukum-hukum tersebut, menganggap ringan atau mengolok-olok, maka dia menjadi kafir dan murtad. Sebab, hukum-hukum tersebut telah diterangkan dengan jelas oleh Al-Qur'an dan dikuatkan dengan hadis-hadis Nabi saw. yang shahih atau mutawatir, dan menjadi ijma' oleh ummat Muhammad saw. dari generasi ke generasi. Maka, barangsiapa yang mendustakan hal ini, berarti mendustakan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mendustakan (mengingkari) hal-hal tersebut dianggap kufur, kecuali bagi orang-orang yang baru masuk Islam (muallaf) dan jauh dari sumber informasi. Misalnya berdiam di hutan atau jauh dari kota dan masyarakat kaum Muslimin.Setelah mengetahui ajaran agama Islam, maka berlaku hukum baginya.

Posted on Sunday, July 21, 2013 by wirajiwa Faintallah

No comments

SYARAT UTAMA BAGI ORANG YANG MASUK ISLAM

Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Pertanyaan:

Apa syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam?

Jawab:

Syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam ialah mengucapkan dua kalimat Syahadat. Yaitu, "Asyhadu allaa ilaaha ilallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah." Barangsiapa yang mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisannya, maka dia menjadi orang Islam. Dan berlaku baginya hukum-hukum Islam, walaupun dalam hatinya dia mengingkari.Karena kita diperintahkan untuk memberlakukan secara lahirnya. Adapun batinnya, kita serahkan kepada Allah. Dalil dari hal itu adalah ketika Nabi saw. menerima orang-orang yang hendak masuk Islam, beliau hanya mewajibkan mereka mengucapkan dua kalimat Syahadat. Nabi saw. tidak menunggu hingga datangnya waktu salat atau bulan Puasa (Ramadhan).
Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang mengucapkan, "Laa ilaaha illallaah," Nabi menyalahkannya dengan sabdanya, "Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah." Usamah lalu berkata, "Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah karena takut mati."Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Apakah kamu mengetahui isi hatinya?"

Dalam Musnad Al-Imam Ahmad diterangkan, ketika kaum Tsaqif masuk Islam, mereka mengajukan satu syarat kepada Rasulullah saw, yaitu supaya dibebaskan dari kewajiban bersedekah dan jihad. Lalu Nabi saw. bersabda, "Mereka akan melakukan (mengerjakan) sedekah dan jihad."ORANG YANG MENGUCAPKAN SYAHADAT, PASTI MASUK SYURGA"

Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya orang yang semasa hidupnya selalu mengerjakan maksiat, akan tetapi pada akhir hayatnya (ketika sakaratul maut) dia mengucapkan dua kalimat Syahadat?
Jawab:

Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bertauhid, yaitu sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir dia berikrar dan mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka dia berhak berada di sisi Allah dan masuk syurgaNya. Orang tersebut sudah dapat dipastikan oleh Allah akan masuk syurga, walaupun masuknya terakhir (tidak bersama-sama orang yang masuk pertama), karena dia diazab terlebih dahulu di neraka disebabkan kemaksiatan dan dosa-dosanya yang dikerjakan, yang belum bertobat dan tidak diampuni. Tetapi dia juga tidak kekal di neraka, karena didalam hatinya masih ada sebutir iman.
Adapun dalil-dalilnya sebagaimana diterangkan dalam hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim,yaitu:Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw.bersabda, "Barangsiapa mengucapkan, 'Laa ilaaha illallaah,'kemudian meninggal, maka pasti masuk syurga."Dari Anas r.a., bahwa Nabi saw. telah bersabda, "Akan keluar dari neraka bagi orang yang mengucapkan, 'Laa ilaaha illallaah,' walaupun hanya sebesar satu butir iman dihatinya."
Dari Abu Dzar pula, dia telah berkata bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda, "Telah datang kepadaku malaikat Jibril dan memberi kabar gembira kepadaku, bahwa barangsiapa yang meninggal diantara umatmu dalam keadaan tanpa mempersekutukan Allah, maka pasti akan masuk syurga, walaupun dia berbuat zina dan mencuri." Nabi saw. mengulangi sampai dua kali.

Banyak hadis yang menunjukkan bahwa kalimat Syahadat memberi hak untuk masuk syurga dan terlindung dari neraka bagi yang mengucapkannya (mengucap Laa ilaaha illallaah). Maksudnya ialah, meskipun dia banyak berbuat dosa, dia tetap masuk syurga, walaupun terakhir. Sedangkan yang dimaksud terlindung dari neraka ialah tidak selama-lamanya di dalam neraka, tetapi diazab terlebih dahulu karena perbuatan maksiatnya.

Posted on Sunday, July 21, 2013 by wirajiwa Faintallah

No comments

Kedudukan aurat ipar duai, biras

Sumber : HARAKAH 16-30 Jun 2008
Ruangan : Fikra
Kemusykilan Agama bersama Ustaz Abd Ghani Shamsudin

ADIK beradik isteri saya ramai, saban tahun kami balik ke kampungnya untuk berhari raya. Apa yang menjadi masalah, bilik tidur dan bilik salin pakaian terhad. Berkaitan isu aurat, betulkah Islam membenarkan saya sebagai sebahagian ahli keluarga melihat kepala ipar perempuan yang tidak bertudung? Selain itu ada memakai kemeja-T berlengan pendek. Harap pihak Ustaz memberi penjelasan mengenai persoalan aurat.

A HALIM JAMINGAN,
Semenyih.

ISLAM agama realistic, menyedari manusia dibekalkan oleh ALLAH naluri dan dorongan seks yang kuat untuk mengekalkan kesinambungan generasi manusia. Naluri ini sangat sensitive dan mudah terpesona dan menyimpang kalau tidak dididik dan dikawal dengan saksama.Dari kesedaan yang tuntas tentang kejadian manusia. Islam menggariskan system kemasyarakatan dan akhlak pergaulan serta batas-batas syarak dalam pergaulan ipar duai dan hubungan antara mahram dan bukan mahram. Beruntunglah manusia yang peka dan sentiasa mematuhu garis dan normal syarak. Sebaliknya celakalah manusia yang mensia-siakannya.

Untuk menghindari persekitaran yang boleh menjebak seseorang kepada zina Islam menegaskan larangan berikut:

Merenung dan memandang ghairah kepada wanita bukan mahram. Allah berfirman dalam Surah an-Nur ayat 30-31 yang maksudnya: “Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Amat Mendalam Pengetahuan-Nya tentang apa yang mereka kerjakan.

Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram)n dan memelihara kehormatan mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya: dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka: dan janganlah memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka , atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan islam,atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang laki-laki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan: dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka: dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman. Supaya kamu berjaya.”

Masuk kerumah orang lain tanpa izin dan bergaul bebas dengan perempuan bukan mahram. ‘Aqabah bin Amir mereiwayatkan bahawa Rasullullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Awas kalian: jangan berleluasa bergaul bebas dengan perempuan (bukan mahram). Seorang lelaki Ansar bertanya: Ya Rasullullah bagai mana dengan keluarga suami. Baginda menjawab. Keluarga suami lagi musibah (mati).”

Imam Nawawi menjelaskan bahawa ahli ilmu sepakat mengatakan bahawa ‘Hamwu atau Ahma’ adalah saudara mara suami seperti ayah, bapa saudaranya, saudara kandung, anak saudara anak pamannya dan sebagainya. Tegas beliau: maksud hadis ini adalah saudara-mara lelakinya: kecuali bapa dan anak suami (kerana mereka dikira mahram bagi isteri) jadi mereka tidak boleh dipanggil sebagai musibah (maut). Menurut beliau biasanya orang awam bermudah-mudah dalam hal ini, sehingga seseorang lelaki itu boleh dibiarkan bersendirian dengan isteri abang atau adiknya. Ini adalah situasi yang dianggap bermusibah dalam hal ini. Sebab itu ia adalah suasana yang boleh menimbulkan fitnah yang dilarang.

Manayangkan aurat perempuan bukan mahram dan perhiasannya yang tersembunyi kepada lelaki ajnabi. Allah berfirman yang maksudnya: “Jangan kaum wanita memaparkan perhiasan mereka kecuali yang zahir daripadanya.”Perbuatan mendedahkan aurat dan menimbulkan kegiuran lelaki lain daripada suami sudah pasti suatu dosa dan perbuatan yang dibenci Allah.

Menurut ulama aurat terbahagi kepada dua jenis:

Aurat Solat dan Aurat Ru’yah. Aurat Ru’yah tidah sama dengan Aurat Solat yang wajib ditutup sebagai satu daripada syarat sah solat. Aurat Ru’yah biasanya lebih luas daripada Aurat Solat. Aurat Solat bagi wanita ialah seluruh tubuh selain muka serta dua tapak tangan serta dua tapak kaki menurut setengah mazhab.

Manakala Aurat Ru’yah wanita bagi mahramnya adalah bahagian-bahagian selain muka, kepala, leher, dua tangan dan kaki. Dan Aurat Ru’yah wanita bagi suami adalah tidak ada. Suami harus melihat dan menyentuh seluruh tubuh isteri tanpa kecuali. Begitu juga sebaliknya.Bahagian yang bukan aurat walaupun pada asalnya harus dilihat namun ada pengecualiannya.

Pada asal keadaan tertentu bahagian yang bukan aurat juga haram dipandang. Harus atau haram melihat anggota seseorang bdalah bergantung sama ada
boleh mendatangkan fitnah, membangkitkan syahwat atau tidak. Justeru lelaki yang tidak dapat mengawal syahwatnya tidak harus memandang muka wanita yang bukan mahramnya sekalipun muka itu bukan aurat.Dia juga haram melihat wajah lelaki tampan atau lelaki lembut sekiranya pandangan itu meransang syahwatnya.

Jumhur ulama berpendapat bahagian yang harus dilihat sesama mahram adalah anggota yang biasa terdedah ketika bekerja atau pakaian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah. Mereka menyebut beberapa anggota seperti, muka, kepala, leher, dan dua tangan hingga ke siku dan dua kaki hingga ke lutut. Selain daripada anggota tersebut tidak harus dilihat kerana tidak ada keperluan untuk membukanya. (Lihat huraian lanjut dalam Kitab al Mufassal Fi Ahkami al Mriah oleh Dr Abdul Karim Zaidan Juz 3 halaman 148-234. Terjemahan huraian mengenai aurat daripada kitab tersebut sebahagiannya dapat dibaca dalam link berikut: http://zaadut-taqwa.blogspot.com

Seperti mana yang dimaklumi, mahram bagi seorang wanita dan lelaki adalah orang yang dia haram bernikah dengannya secara ta’bid (haram berkekalan atau selamanya), sama ada disebabkan nasab, atau susuan atau Mushaharah ( persemendaan) seperti, ibu isteri seseorang. Bagi mereka yang status persemendaannya bukan bukan atas dasar ta’bid sudah pasti tidak masuk dalam kategori mahram yang dimaksudkan. Kakak atau adik ipar yang masih dara mungkin boleh dikahwini andai kata seseorang suami itu menceraikan interinya yang merupakan adik / kakak kandung kepada kakak atau adik isterinya.

Masuk kebilik atau ruang tidur orang dewasa tanpa lebih dahulu meminta izin pada waktu-waktu yang ditegah seperti sebelum fajar, waktu qailulah dan selepas isyak. Allah berfirman dalam Surah Annur 58-59 yang bermaksud:
“Wahai orang-orang beriman, hendaklah hamba-hamba kamu dan orang-orang yang belum baligh dari kalangan kamu, meminta izin kepada kamu (sebelum masuk ke tempat kamu), dalam tiga masa(iaitu) sebelum sembahyang subuh, dan ketika kamu membuka pakaian kerana kepanasan tengah hari, dan sesudah sembahyang Isyak, itulah tiga masa bagi kamu (yang biasanya terdedah aurat kamu padanya). Kamu dan mereka tidaklah bersalah kemudian daripada tiga masa yang tersebut, (kerana mereka) orang-orang yang selalu keluar masuk kepada kamu, dan kamu masing-masing sentiasa berhubung rapat antara satu dengan yang lain. Demikianlah Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayat-Nya (yang menjelaskan hokum-hukum-Nya),dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.”

Posted on Sunday, July 21, 2013 by wirajiwa Faintallah

No comments

Thursday, July 18, 2013

Orang buat jahat dan zalim pada kita. Jika termampu, maafkanlah. Kerana memaafkan seorang saudara sesama Islam itu seumpama kita memaafkan seluruh umat Islam diatas muka bumi ni. 

Semoga kita dan keluarga serta  sahabat²  sentiasa berada didalam taufiq dan hidayah Allah, dipelihara rohani(iman/Agama/Akhirat) dan jasmani(kesihatan/dunia/kerjaya dsb.). Manusia tidak menjadi baik dalam masa sehari. 
Bersabarlah dengan dugaan dari Allah.

"Kezaliman yang ditaburkan kepada kita menjadikan kita lebih hampir kepada Allah, dan sentiasa berdoa dan ingat kepadaNYA."

Dan beruntunglah kepada mereka-mereka yang sentiasa berdoa dan ingat kepada Allah.

Firman Allah Ta'ala: "Ingatlah kamu kepadaKu nescaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku". [AL-QURAN SURAH Al-Baqarah, : 152].

Manusia selalu lupa Allah, lebih-lebih lagi bila dalam kesenangan, lalu Allah campakkan sedikit kesusahan berupa kesempitan keperluan, kemerosotan kesihatan, pengkhianatan dari orang yang kita sayang dan bermacam-macam lagi untuk memberi peringatan kepada kita, agar kembali kepada Allah. Hiduplah dengan penuh syukur dan kesabaran.

Namun terlalu sedikit daripada kita yang melihat semua itu dari sudut yang positif.


Posted on Thursday, July 18, 2013 by wirajiwa Faintallah

No comments

Sunday, July 14, 2013

Soalan         

1. Saya ingin tahu apakah hak-hak isteri kedua dalam sebuah perkahwinan kerana suami dan madu mengatakan isteri kedua tidak mempunyai hak dan tidak boleh menuntut apa-apa dari perkahwinan saya.

2. Suami sering melebihkan isteri pertama sama ada dari segi pembahagian nafkah dan giliran bermalam,bolehkah saya membuat aduan diatas perkara ini ke pejabat kadi.

3. Suami menyewakan saya sebuah rumah begitu juga dengan isteri pertama namun untuk pemberian nafkah hanya pihak isteri pertama menerima dengan alasan anak-anak di sana lebih ramai. Manakala untuk saya hanya jika ada lebihan jika tidak saya tidak dapat?
 
Jawapan

Berdasarkan Hukum Syarak dan peruntukan perundangan keluarga Islam yang dilaksanakan di Malaysia.Semua wanita yang telah dinikahi secara sah mengikut Hukum Syarak mempunyai hak yang sama, tiada perbezaan samada yang kedua,ketiga atau keempat. Tidak menjadi kesalahan sekiranya berlaku ketidaksamaratan pemberian hak kepada isteri atau isteri-isteri yang sedia ada sekiranya ada KEREDHAAN di sisi mereka. Sekiranya isteri tidak redha, maka dibenarkan untuk mengemukakan permohonan mendapat keadilan melalui proses perbicaraan di Mahkamah Syariah. Konsep kesamarataan dan keadilan boleh diperolehi secara undang-undang di Mahkamah Syariah. Hakim Syarie akan membantu pasangan di dalam perbicaraan tersebut.

Jawapan disediakan oleh Jabatan Agama Islam Selangor :

Posted on Sunday, July 14, 2013 by wirajiwa Faintallah

No comments

Malaysian Business Locations Directory